:

Ketika Mahasiswa Dunia Mengajarkan Energi Bersih kepada Anak-anak Sumenep

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di sebuah ruang kelas sederhana di Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, tawa anak-anak terdengar bersamaan dengan berputarnya roda-roda mobil mainan. Kendaraan kecil itu melaju bukan karena baterai sekali pakai atau dorongan tangan, melainkan oleh cahaya matahari yang ditangkap panel surya mungil di atasnya.

 

Bagi para siswa, permainan itu adalah pengalaman baru. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan pelajaran tentang masa depan energi yang lebih bersih—sebuah gagasan yang dibawa oleh mahasiswa dari lima negara ke salah satu kawasan kepulauan paling terpencil di Jawa Timur.

 

Mahasiswa dari Malaysia, Tiongkok, Hong Kong, Pakistan, dan Universitas Airlangga memilih pendekatan yang berbeda dalam mengenalkan energi terbarukan. Mereka tidak memulai dengan teori rumit atau istilah teknis, tetapi melalui permainan merakit mobil bertenaga surya. Cara belajar yang menyenangkan itu menjadi bagian dari program Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA).

 

Pilihan lokasi bukan tanpa alasan. Kabupaten Sumenep memiliki gugusan pulau terbanyak di Jawa Timur. Di balik keindahan laut dan pulau-pulau kecilnya, masih tersimpan persoalan klasik berupa keterbatasan akses listrik. Sebagian masyarakat di wilayah kepulauan belum menikmati pasokan listrik secara penuh sebagaimana warga di daratan.

 

Kondisi tersebut membuat energi surya dipandang sebagai salah satu alternatif yang menjanjikan. Wilayah Madura, termasuk Sumenep, menerima paparan sinar matahari yang melimpah hampir sepanjang tahun sehingga memiliki potensi besar untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi matahari.

 

Ketua panitia sekaligus dosen pendamping program, Ika, mengatakan SEGTA dirancang bukan sekadar mengenalkan teknologi, melainkan membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya transisi menuju energi berkelanjutan.

 

"Edukasi ini kami kemas melalui permainan agar siswa lebih mudah memahami manfaat energi terbarukan. Harapannya, mereka tidak hanya mengenal teknologi ramah lingkungan, tetapi juga mampu menerapkannya di lingkungan masing-masing, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki potensi energi surya cukup besar," ujarnya.

 

Pendekatan berbasis praktik itu membuat konsep energi terbarukan lebih mudah dipahami anak-anak. Mereka tidak hanya melihat panel surya sebagai benda asing, melainkan memahami bagaimana cahaya matahari dapat diubah menjadi tenaga yang menggerakkan sebuah kendaraan mini.

 

Program SEGTA juga tidak berhenti pada isu energi. Tim mahasiswa internasional memperkenalkan teknologi penyaringan air bersih sebagai solusi sederhana bagi masyarakat kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber air layak konsumsi.

 

Kolaborasi lintas negara itu memperlihatkan bahwa tantangan pembangunan di daerah terpencil dapat menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan mengenai persoalan energi di wilayah kepulauan Indonesia, sementara masyarakat menerima pengetahuan baru yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan, menilai program tersebut sejalan dengan kebutuhan daerah. Menurut dia, literasi mengenai energi terbarukan perlu ditanamkan sejak usia sekolah, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan dengan akses listrik yang belum sepenuhnya merata.

 

"Kami mengapresiasi program ini karena memberikan edukasi sejak dini kepada para siswa mengenai energi terbarukan. Pemerintah daerah siap mendukung pengembangan program serupa sebagai upaya mempercepat pemerataan akses energi sekaligus mendukung digitalisasi pendidikan di wilayah kepulauan," kata Moh. Iksan.

 

Di tengah berbagai tantangan pembangunan wilayah kepulauan, inisiatif seperti SEGTA menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Sebuah mobil mainan yang bergerak karena sinar matahari dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya generasi yang lebih akrab dengan teknologi hijau.

 

Bagi Sumenep, yang selama ini dikenal sebagai kabupaten dengan ratusan pulau, pendidikan mengenai energi terbarukan bukan sekadar materi pembelajaran. Ia dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan masyarakat yang mampu memanfaatkan potensi alamnya sendiri, ketika matahari bukan lagi hanya sumber cahaya, melainkan sumber harapan bagi masa depan kepulauan.

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *